Selasa, 06 Juni 2017

Qiraat Sab’ah: Qiraat Ashim Riwayat Hafs

Qiraat Sab’ah: Qiraat Ashim Riwayat Hafs

Oleh: Teguh Arafah[1]
  1. Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai wahyu yang diterima oleh Nabi merupakan petunjuka yang memgurai berbagai dimensi. Makna itu terungkap lewat penafsiran-penafsiran yang dilakukan mufassir dengan berbagai pendekatan. Ragam variasi makna dan penafsiran salah satu yang melatar belakangi adalah persoalan ragam qira’at (bacaan). Perbedaan qira’at bukan sebuah ijitihad para ulama, melainkan riwayat dari Nabi langsung, sehingga secara legitimasi hukum sumbernya dari Nabi saw. Karena sifatnya riwayat dari Nabi saw, maka sumber periwayatnya pun juga berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam makalah ini tentang qiraat Ashim riwayat Hafs yang diuraikan juga seputar qiraat itu sendiri.
  1. Pengertian
  2. Qiraat
Lafaz qiraat merupakan bentuk plural dari kata qiraah yang tidak lain adalah bentuk mashdar dari fi’il qara’a. Kata qira’at sendiri secara  etimologi berarti beberapa bacaan. Sedangkan secara terminologi, maka ada beberapa pendapat ulama yang penting untuk diperhatikan. Diantaranya adalah keterangan yang telah dikemukakan oleh Abu Syamah al-Dimasyqi (w. 665/1266)[2] yaitu
Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari cara melafazkan kosa kata al-Qur’an dan perbedaannya yang disandarkan pada perawinya.
Dengan jelas dapat diketahui bahwa la-Dimasyqi menganggap ilmu qiraat sebagai sebuah disiplin ilmu yang berbicara tentang tata cara penyebutan dan ragam perbedaan lafadz al-Qur’an.’beliau juga menegaskan bahwa sumber pembahasan ilmu ini berasal dari informasi para perawi yang tentu saja sumber utama adalah Rasulullah saw. Al-Qatthan  juga mengemukakan bahwa ilmu qiraat adalah: salah satu madzhab dari beberapa madzhab artikulasi (kosa kata) al-Qur’an yang diplih oleh salah seorang imam qira’at yang berbeda dengan madzhab lainnya.[3].
  1. Macam-macam Qiraat
Ulama membagi qiraat menjadi tiga macam  yaitu; qiraat mutawatir, ahad dan syazzah.  Qiraat mutawatir adalah qiraat adalah qiraat imam tujuh. Qiraat ahad adalah tiga qiraat yang menjadi tambahan qiraat sepuluh, sedangkan qiraat syazzah adalah qiraat para tabi’in seperti al-Amasy, Ibn Juber, Yahya bin Wasab dan yang lainnya.[4]
Dari tiga pembagian di atas maka ulama memberikan defenisi masing-masing tentang qiraat tersebut
Pertama, Qiraat mutawatir  adalah semua qiraat yang sesuai dengan rasm utsmani walau hanya perkiraan dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab walau satu segi saja, dan sanadnya bersambung kepada Rasulullah saw.[5]
Dari pengertian tersebut qiraat mutawatir harus memenuhi tiga syarat: [1] sesuai dengan rasm utsmani walau hanya perkiraan  (ihtimal). [2] sesuai dengan kaidah bahasa Arab walau satu segi saja, dan [3] sanad qiraat bersambung kepada Rasulullah saw.
  1. Hakikat Perbedaan Qiraat
Dalam disiplin ilmu qiraat dikenal dengan istilah qiraat sab’ah, maka yang dimaksud bukanlah sab’ah ahruf (tujuh huruf). Dengan kata lain qiraat sab’ah dengan sab’ah huruf  merupakan dua hal yang berbeda, yang dimaksud dengan qiraah sab’ah adalah tujuh madzhab qiraat yang diwakili oleh tujuh orang imam qiraat. Bahkan dalam kajian ilmu qiraat yang lebih dalam akan dijumpai istilah al-Qira’ah al-Asyr dan al-Qiraah al-Arba’ah al-Asyr yakni qiraat yang berjumlah sepuluh maupun empat belas.Keberadaan madzhab yang dikenal dalam disiplin ilmu qiraat tidak lain merupakan konsekuensi dari perbedaan qiraat al-Qur’an.
Namun yang berkembang dikalangan kaum muslim adalah mengenai hakikat perbedaan qiraat al-Qur’an itu sendiri. Karena hal ini tidak dibahas secara spesifik oleh rasulullah saw.Pokok persoalannya ada pada memahami kata ahruf. Kata ahruf merupakan bentuk plural dari kata harf yang secara bahasa berarti salah satu huruf hijaiyyah, ada juga yang memaknainya sebagai tepi sesuatu.[6] Ada juga yang memaknainya dengan dalam kointeks itu adalah qiraat, dialek, bahasa dan lain-lain. Menurut  al-Sayuthi ada sekitar empat puluh pendapat ulama dalam masalah terminologi sab’ah ahruf.[7] Manna al-Qathhan juga mengemukakan bahwa sab;ah ahruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa bahasa Arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama dengan pengertian apabila bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna.[8]
  1. Profil Imam Ashim
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Asim bin Abu al-Najud, dipanggil dengan nama Abu Bahdalah, ia termasuk tabiiin yang meninggal dikufah pada tahun 127 H dan ia memiliki dua riwayat yaitu Syu’bah dan Hafs.[9] Nama kuniyah yang beliau miliki adalah Abu Bakar . Ashim berhasil meraih posisi terhormat dikalangan para ulama ahli qiraat dan banyak sekali pujiaan maupun sanjungan yang ditujukan kepada beliau. Di anataranya berasal dari Abu Ishaq al-Subi’i yang telah menganggap bahwa beliau adalah seorang ulama ahli dalam bidang qiraatul qur’an. Kompetesi beliau sebagai seorang ulama ahli qiraat juga bisa diketahui dengan jelas dari keterangan yang disampaikan Abu Bakar Syu’bah ibn Ayyas sebagai berikut: Ashim pernah berkata kepadaku, aku telah menderita sakit selama dua tahun. Setelah sembuh, aku kembali membaca al-Qur’an. Ternyata aku tidak melakukan kesalahan membaca sekalipun hanya satu huruf. Bahkan Ashim adalah orang yang paling menguasai qiraat Zaid bin Tsabit, hal ini terungkap dalam pengakuan beliau : Di antara kami ada dua orang yang sangat ahli dalam ilmu qiraat. Salah satunya sangat ahli qiraat Zaid adalah Ashim.
Ashim bin Bahdalah bukan hanya seorang ulama yang ahli dalam bidang ilmu qiraat, beliau juga termasuk dalam jajaran tokoh hadits. Banyak sekali hadits Rasulullah saw yang telah beliau riwayatkan. Bahkan riwayat-riwayat haditsnya juga tercantum di dalam shahih bukhari dan Muslim.[10]
Selain itu Ashim juga termasuk seorang ulama yang menguasai ilmu bahasa dngan sangat baik. Ia disebut sebagai seorang ahli ilmu nahwu dan memliki logat bahasa yang fashihh. Apabila melontarkan sebuah statemen, makan penjelasannya masyhur dikalangan masyarakat. Diantara tokoh yang mengakui kefasihan logat bahasa Arab Imam Ashim adalah Hasan ibn Shalih.  Tidak hanya sebatas itu, Ashim juga termasuk ulama yang tekun dalam ibadahnya. Sementaradi anatar etika terpuji beliau adalah sikap sportif dan jujur, beliau tidak segan untuk mengakui kebesaran orang lain sekalipun tokoh tersebut masih termasuk anak muridnya. Disebutkan sebuah riwayat bahwa  beliau tidak malu untuk datang  meminta  fatwa kepada Sufyan al-Tsauri (w. 161/ 777). Bahkan juga beliau mengakui kebesaran muridnya tersebut dalam ungkapan beliau sebagai berikut: Wahai Sufyan, dulu ketika masih kecil, engkau datang belajar kepada kamii.Namun kamu sekarang sudah menjadi tokoh besar ketika kami datang kepadamu.[11]
Singkat cerita, Imam Ashim meninggal dunia di Kufah pada tahun 127/744 Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa beliau meninggal pada tahun 128/745. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika beliau sedang mengalami kondisisakratul maut, Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy tengah mengejutkannya. Ketika itulah dia menjumpai Imam Ashim sedang membaca dari surat al-An’am: Tsumma ruddu ila Allahi maulahum al-haqq (kemudian mereka kmbali kepada Tuhan mereka Allah yang Maha benar)
Diantara guru-guru Imam Ashim dalam bidang qiraat terdapat dua orang
  • Abu Abd Rahman al-Sulamiy
  • Zirr ibn Hubaisy
Sedangkan murid-muridnya  sebagai berikut
  • Hafsh ibn Sulaiman alAsady
  • Syu’bah ibn Ayyasy
Sedangkan selanjutnya makalah ini akan menguraikan juga profil perawi Hafs yang karena perawi qiraat juga memliki kedudukan yang sangat vital dalam memelihara kesinambungan mata rantai sanad qiraat. Berikut profil Hafsh
Beliau adalah Umar hafsh ibn Sulaiman ibn al-Mughirah al-Asady al-Bazzar al-Gadhiory al-Kufy. Ada juga yang menyebutkan bahwa garis nasab beliau adalah Hafsh ibn Abu Dawud.[12] Namun pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara nasab yang disebutkan terakhir dengan nasab yang disebutkan pertama kali. Karena Abu Dawud merupakan nama kuniyah dari Sulaiman yang tidak lain adalah nama ayahanda Hafsh, beliau juga dikenal dengan sebutan Hufaish. Selain sebagai seorang ahli ilmu qiraat , Hafs juga merangkap sebagai seorang perawi hadits Rasulullah saw, hanya saja reputasi beliau dalam kajian ini tidak secemerlang nama ayah tirinya. Statusnya sebagai perwai hadits cukup kontroversial di kalangan ulama ahli hadits. Ada yang mengatakan sekalipun ketokohan beliau dalam ilmu qiraat tidak dragukan lagi, namun riwayat hadistnya tidak dapat diterima.[13]
Ali ibn al-Madini juga menganggap riwayat hadits Hafsh berkualitas dha’if. Oleh karena itu, dia sengaja meninggalkan riwayatnya. Al-Bukhari dan Muslim mengatakan kalau riwayat hadits Hafsh ditingggalkan oleh para ulama hadits. Sedangkan menurut al-Nasa’i, Hafs bukan tergolong perawi haidts yang tsiqah.  Bahkan dia tidak menulis riwayat hadits yang telah dia dapat. Adapun menurut Ibn Hibban, Hafs merupakan perawi yang pernah me marfu’kan hadis mursal dan terbalik dalam menyampaikan sanad hadits.[14]
Dalam persolan qiraat Hafsh disebut-sebut belajar kepada ‘Ashim ibn Abi al-Najud, sedangkan murid yang meriwayatkan qiraat dari beliau cukup banyak, di antaranya ‘Ubaid ibn al-Shabbah, ‘Amr ibn al-Shabbah, Husain ibn Muhammad al-Marwadzi, Hamzah ibn al-Qasim al-Ahwal, Sulaiman ibn Daud al-Zahrany, Hamdan ibn Abi Utsman al- Daqqaq, al-Abbas ibn al-Fadhl al-Shigar, Abd Rahman ibn Muhammad ibn Waqid, Muhammad ibn al-Fadl, Khalaf al-Haddad, Hubairah ibn Muhammad ibn Tammar, Abu Syuaib al-Qawwas, Fadhl ibn Yahya ibn Syahy ibn Firas al-Anbary dan Sulaiman al-Faqimy.[15]
  1. Teori Qiraat Ashim riwayat Hafsh
            Kenyataan adanya perbedaan qiraat merupakan konsekuensi dari adanya sab’ah ahruf yang bersumber dari riwayat yang bersambung kepada Rasulullah saw, dengan kata lain perbedaan qiraat yang akhirnya terinstitusi dalam beberapa madzhab qiraat merupakan sesuatu yang harus disandarkan pada sistem riwayat. Perbedaan antara madzhab yang satu dengan yang lain bukanlah sekedar pilihan-pilihan bebas tanpa aturan yang mengikat.  Pada dasarnya perbedaan qiraat yang terdapat di antara madzha, riwayat, maupun thariq yang satu dengan yang lainnya terbagi menjadi dua bagian; [1] qawaid ushuliyyah  dan farsy al-huruf. Yang dimaksud dengan perbedaan qawaid ushuliyyah  perbedaan-perbedaan qiraat yang bersifat umum dan bisa diqiyaskan antara satu dengan yang lain, karena sering muncul di beberap tempat. Berbeda dengan farsy al-huruf yang hanya bersifat parsial dan tidak bisa diqiyaskan karena memang disebutkan dalam frekuensi yang tidak terlalu sering atau bahkan hanya disebutkan sekali. Berikut ini beberapa teori madzhab qiraat Ashim riwayat Hafsh yang dimulai dengan perbedaan sebagai berikut
  1. Perbedaan qawaid ushuliyyah
  1. Bacaan Basmalah
Mengenai aturan membaca basmalah, para ulama ahli qiraat membaginya menjadi tiga macam:[16]
  • Basmalah yang dibaca pada permulaan surat
Para ulama bisa dibilang sepakat bahwa basmalah dibaca di awal setiap surat, kecuali pada permulaan surat al-Taubah
  • Basmalah yang dibaca bukan pada permulaan surat
Para ulama juga masih sepakat dalam kasus basmalah yang bukan pada permulaan surat, antara membacanya atau tidak membacanya. Hanya saja menurut mereka, yang lebih uutama adalah tetap membaca basmalah sekalipun tidak pada permulaan surat.
  • Basmalah yang dibaca diantara dua surat al-Qur’an
Pada bagian inilah para imam qiraat berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa basmalah tetap dibaca di akhir sebuah surat sebelum seseorang meneruskan pada surat al-Qur’an yang lainnya. Namun ada juga imam qiraat yang berpendapat bahwa basmalah tidak perlu lagi di baca antara dua surat.  Di antara kelompok imam yang berpendapat bahwa basmalah  di baca di antara dua surat adalah Imam Ashim.
  1. Gunnah’
Yang dimaksud dengan gunnah adalah suara dengung yang keluar dari  rongga hidung akibat membaca huruf nun- atau nun  yang bentuk tanwin dan huruf mim. Para imam Qiraat membagi bacaan gunnah menjadi tiga macam
  1. al-Musyaddad yakni bacaan gunnah yang timbul karena adanya pertemuan dua huruf nun maupun Salag satu contohnya adalah pada QS al-Baqarah [2] 82 ulaaika ashabu al-jannah
  2. Idgham
Yang dimaksud dengan idgham adalah memasukkan huruf pertama pada huruf kedua sehingga cara artikulasinya menjadi mudah. Pembahasan idgham dibagi menjadi dua kelompok
  1. Idgham Kabir, yakni bertemunya dua huruf mutamatsilain, mutaqariba, atau mutanjisan yang sama-sama berharakat dalam satu kata atau dua kata. Dalam kasus idgham kabir hanya ada idgham kabir mutamatsilain dalam riwayat Hafsh. Tidak ada idgham kabir mutaqariban  dalam riwayat ini.
  2. Idham Shagir yakni bertemunya dua huruf mutamtsilain, mutaqaribain atau mutanajisaini dalam satu dua kata, di mana huruf yang pertama di sukun dan huruf yang kedua berharakat. Hal ini menjadi dibagi tiga:
  • Idgham mutamatsilain, yakni bertemunya dua huruf yang memiliki kesamaan makhraj dan Contoh (QS [2] 16)  fa ma rabihat tijaratahum wa ma kanu muhtadin. Khusus untuk lafaz maliyah halaka pada ayat; ma agna anni malihi halaka anni sulthanihi,  selain dibaca idgham mutamatsilain, Hafs juga membacanya saktah yakni berhenti pada kata malihah tanpa bernafas untuk kemudian memulainya pada kata halaka.
  • Idgham mutajanisan yakni bertemunya dua huruf yang memliki kesamaan makhraj namun tidak memiliki kesamaan sifat. Contoh pada QS [7] 176, lafal yalhats di-idghamkan pada lafaz  Hal ini berbeda dengan riwayat Hafsh thariq Thayyibah yang membaca izhar  kedua lafaz tersebut.
  • Idgham Mutaqaribain yakni bertemunya dua huruf yang memiliki keketakan makhraj dan sifat. Contoh pada QS [23] 118 wa qul rabbigfir warham. Lafaz qul pada ayat tersebut di-idgham-kan pada kata Namun hal ini tidak berlaku pada lafaz kalla bal rana (QS [83] 14). Sebab riwayat Hafs thariq Syatibiyyah tidak meng-idghamkan lafaz bal pada kata rana  melainkan membaca saktah.[17]
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka beberapa poin mendasar yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan sebagai berikut: [1] Qiraat adalah ragam cara bacaan yang punya legitimasi dan landasan riwayat dari Nabi saw ‘ [2] Pemaknaan terhadap qiraat sendiri dasar awal terhadap konsep sab’atu ahruf  sebagian memaknainya dengan ragam tujuh bacaan atau ragam dialek bahasa. [3]  Qiraat diklasifikasi pada tiga macam; mutawatir, ahad dan syadz, [4] teori qiraat Ashim riwayat Hafs berdasarkan pada teori qawaid ushuliyyah yang meliputi idgham, pembacaan awal basmalah, gunnah dan lain-lain.

[1] Tugas  akhir mata kuliah “Ilmu Qira’at” di bawah bimbingan Dr. Akshin Sakhu Muhammad. MA pada program magister pasca sarjana fakultas ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
[2] Al-Dimasyqi, Ibraz al-Ma’any min Hirz al-Amany fi al-Qiraat al-Sab’ li al-Imam al-Syathibi, hal, 12.
[3] Manna’ al-Qatthan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an (tt, Mansyurah al-Ashr al-Hadis, tth), hal, 170
[4] Al-Sayuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr),hal, 164.
[5] Al-Jazari, al-Munjid al-Muqri’in, hal, 15.
[6] Ibn Manzhur, Lisan Arab (Beirut: dar Shadr, tth), hal, 41.
[7] Al-Sayuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, 47.
[8] Manna al-Qatthan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, hal, 162.
[9] Mali laila Najihah, Implikasi Qiraat Syazzah dalam penafsiran, hal, 28.
[10] Muhammad ibn Abi Ya’la, Thabaqat al-Hanabilah. Maktabah Syamilah
[11] Ahmad ibn Muhammad ibn Khalikan,  Wafayat al’A’yan wa Anba’ al-Zaman, hal, 387.
[12] Ibn Hajar, Taqrib Tahzib, hal, 172.
[13] Ibn Hajar, Taqrib Tahzib, hal, 172.
[14] Ibn Hajar, Tahzib al-Tahzib, hal, 173
[15] Ibn al-Jazary, Taqrib l-Nasyr fi Qira’at al-Asyr (Mesir: Mushthafa al-Bani), hal, 66.
[16] Ajamy al-Marshafy, Hidayah al-Qariy ila Tajwid Kalam al-bari, hal, 573-575
[17] Lebih Lanjut lihat Wawan Djunaedi, Madzhab Qiraa’t, hal,144.

Sabtu, 03 Juni 2017

QIRA’AT ABU ‘AMRU AL-BASRI



QIRA’AT ABU ‘AMRU AL-BASRI
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas ujian akhir semester
Mata Kuliah : Qira’at dan Nagham
Dosen Pengampu : H. Syaiful Mujab, MSI



Oleh :
Chanifatur Rofiah
1530410022







SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN) KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bangsa Arab dahulu mempunyai berbagai lajnah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dan kabilah yang lain, baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya. Akan tetapi dari setiap kabilahnya ternyata mempunyai kekurangan masing-masing kecuali kabilah Quraisy. Perbedaan dan keragaman dialek-dialek bangsa Arab menyebabkan al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad akan menjadi sempurna kemukjizatannya apabila ia dapat menampung berbagai dialek dan macam-macam cara membaca al-Quran sehingga memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.[1]
Qira’at dalam sejarah zaman Nabi ialah suatu bacaan al-Quran yang bersandarkan dan mengikuti bacaan Nabi yang mana para sahabat membacanya sesuai dengan yang dianjurkan Nabi. Diantara sahabat yang masyhur dalam qira’at ialah ‘Ubay, ‘Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, dan lainnya. Dari merekalah para sahabat lain dan tabi’in dari segala penjuru belajar membaca al-Quran dan semuanya bersandar sampai dengan Nabi.[2]
Ibnu Mujahid menentukan tokoh yang benar-benar menjadi imam qira’at sehingga dipilihlah sampai tujuh bacaan mutawatir atau disebut al-Qira’at as-Sab’ah al-Mutawatirah. Adapun diantara imam qira’ah sab’ah yang sudah masyhur dengan kredibilitasnya, konsistennya dan aturan-aturan cara membaca al-Qurannya ialah Abu ‘Amru Al-Basri yang akan dijelaskan dalam makalah ini.[3]
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana biografi Abu ‘Amru Al-Basri?
2.      Bagaimana cara membaca al-Qurannya?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Abu ‘Amru Al-Basri
Imam Abu ‘Amru al-Basri mempunyai nama lengkap Abu Amru Zaban bin al-‘Ala’ al-Basri al-Mazani. Ia lahir di Mekkah pada tahun 68 H pada masa Abdul Malik, lalu rihlah ke Basrah dan wafat di Kufah pada tahun 154 H pada masa al-Mansur.
Adapun sanadnya ialah dari kalangan Tabi’in baik dari Iraq dan Hijaz ialah Mujahid dan Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas dan dari Nabi Muhammad. Adapun dua muridnya yang menjadi rawinya ialah:
a.    Ad-Duri
Nama lengkapnya ialah Abu Umar Hafsh bin Umar al-Duri, ia lahir pada 150 H dan wafat pada tahun 246 H. Ia merupakan salah satu rawi yang menurut sebagian besar ulama dikatakan sebagai penemu ilmu qira’at ini dikarenakan dia ialah orang yang pertama menghimpun qira’at dari tujuh imam, selain itu ia juga mempunyai kitab lain yakni Ahkamu al-Quran, Fadhailu al-Quran, dan lainnya.
Adapun sanadnya, ia belajar kepada Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi dan dari Abu Amru al-Basri. Sedangkan thariq-nya, yakni penerus estafet qira’at imam Abu Amru dengan bacaan riwayatnya yang terkenal ialah Abu Za’ra dan Ibnu Farh.
b.    As-Susi
Adapun nama lengkapnya ialah Abu Syu’aib Shalih bin Ziyad bin Abdillah bin Ismail as-Susi. Ia meninggal pada tahun 261 H. Sedangkan sanadnya ialah dari Abi Muhammad Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi dari Abu Amru al-Basri. Sedangkan thariq-nya, yakni penerus estafet qira’at Imam Abu Amru dengan bacaan riwayatnya yang terkenal ialah Ibnu Jarir dan Ibnu Jumhur.[4]

B.     Cara Membaca al-Qurannya
Riwayat ad-Duri
1.    Memisah di antara dua surat
Duri memisah di antara dua surat dengan basmalah. Selain dengan basmalah ad-Duri juga memisah dengan saktah dan mewashal-kan kedua surat dengan tanpa basmalah.
2.    Mim jama’
Apabila ada ha’ kasrah dan mim dari setiap mim jama’ yang sesudahnya berupa sukun yang sebelumnya berupa kasrah atau ya’ sukun, maka ad-Duri membaca dengan kasrah, seperti عَلَيْهِمِ الذِّلَّة
3.    Panjang dan pendek bacaannya.
a.    Apabila mad muttashil maka dibaca 2 alif seperti جَآءَ
b.    Apabila mad munfashil maka dibaca 1 dan 2 alif, seperti بِمَا أُنْزِلَ
4.    Dua hamzah berurutan dalam satu kalimat
 أَ – أَ seperti:  ءَأَنْذَرْتَهُمْ
  أَ – إِseperti:    أَئِذَا
Maka pada kedua bacaan ini bacaannya ialah tashil hamzah kedua dengan ada alif yang masuk (sama dengan riwayat Qalun)
 أَ – أُ  seperti:  أَؤُنْزِلَ
Adapun pada model ini bacaannya ialah dua versi, yakni:
a.    Tashil hamzah kedua dengan ada alif yang masuk
b.    Tashil hamzah kedua dengan tanpa ada alif yang masuk
5.    Dua hamzah berurutan dalam dua kalimat yang harakatnya sama, maka ada 3 model
أَ – أَ seperti: جَاءَ أَمْرُنَا
إِ – إِ seperti: هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ
أُ – أُ seperti:  أَوْلِيَاءُ أُلئِكَ
Maka ketiga model tersebut, masing-masing gugur hamzah pertamanya.
6.    Dua hamzah berurutan dalam dua kalimat yang hakikatnya berbeda, maka ada lima model:
أَ – إِ seperti: تَفِيْئَ إِلَى
أَ – أُ seperti: جَاءَ أُمَّةً
Pada kedua model diatas ini berlaku tashil huruf hamzah kedua.
إِ – أَ seperti: مِنْ خِطْبَةٍ النِّسَاءِ أَوْ
Pada model ini berlaku ibdal ya’ (mengganti menjadi ya’) pada huruf hamzah kedua.
أُ – أَ seperti: السُّفَهَاءُ أَلاَ
Pada model ini berlaku ibdal waw (mengganti menjadi huruf waw) pada huruf hamzah kedua.
أُ – إِ seperti: يَشَاءُ إِلَى
Adapun pada model ini berlaku tashil dan ibdal waw pada huruf hamzah kedua.
7.    Idzhar dan idgham
a.    Apabila ada huruf ذْ bertemu dengan huruf ت, maka ad-Duri membaca idgham, seperti: اتَّخَذْتُمْ
b.    Apabila terdapat huruf dal lafadz قد bertemu pada huruf ج، ذ،ز،س،ش،ص،ض،ظ maka ad-Duri membaca idgham seperti: قَدْجَّاءَكًمْ
c.    Apabila terdapat huruf dzalnya إِذْ bertemu pada huruf ت،ج،د،ز،س،ص maka ad-Duri membaca idgham, seperti: إِذْتَمْشِيْ
d.   Apabila ada ta’ ta’nits bertemu dengan huruf ز،س،ص،ظ،ث،ج maka ad-Duri membaca idgham, seperti: وَجَبَتْ جُنُوبُهَا
e.    Apabila terdapat huruf lamnya lafadz هَلْ pada huruf ت maka ad-Duri membaca idgham, seperti: هَلْ تَرَى
f.     Apabila terdapat ra’ sukun dengan lam maka ad-Duri membaca dengan versi, yakni idzhar dan idgham, seperti: نَغْفِرْلَكُمْ
g.    Dalam ayat ن وَالقَلَمِ maka ad-Duri membaca dengan idzhar.
8.    Fathah dan imalah
a.    Apabila terdapat lafadz yang dzawatil ya’ (alif berbentuk ya’ atau alif yang aslinya ialah ya’) yang berwazan فَعلى – فِعلى – فُعلى maka ad-Duri membaca taqlil, seperti: مُوسَى
b.    Apabila ada alif yang terletak sebelum ra’ yang berharakat kasrah di ujung kalimat, maka ad-Duri membaca imalah, seperti: أَبْصَارِهِم
c.    Apabila ada huruf alif yang berbentuk ya’ yang jatuh setelah huruf ra’ di akhir kalimat (dzawatir ra’), maka ad-Duri membaca imalah seperti: نَصَارَى
d.   Apabila terdapat lafal النَّاسِ yang dibaca jer, maka ad-Duri membaca imalah, seperti: وَمِنَ النَّاسِ
e.    Apabila terdapat lafal الكَافِرِيْنَ – كَافِرَيْنَ maka ad-Duri membaca imalah
f.     Dalam setiap huruf ha’ dan ra’ dalam awal surat yang terdiri dari huruf hujaiyah (fawatih as-suwar) maka ad-Duri membaca imalah seperti: طه، الر
g.    Dalam setiap huruf ح dalam awal surat yang terdiri dari huruf hijaiyah (fawatih as-suwar) maka ad-Duri membaca taqlil, seperti: حم
h.    Pada akhir ayat dalam 11 surat tertentu, ad-Duri membaca seluruh alif yang aslinya ya’, atau alif yang berbentuk ya’ (dzawatil ya’) dengan taqlil semua tanpa dibaca fathah. Surat tersebut ialah Thaha, an-Najm, al-Ma’arij, al-Qiyamah, an-Nazi’at, ‘Abasa, al-A’la, asy-Syams, al-Lail, ad-Dhuha, dan al-‘Alaq. Adapun khusus dalam lafadz رأى dan dzawatir ra’ maka tetap dibaca imalah.
9.    Ya’ idhafah atau ya’ mutakallim
Dalam membaca ya’ idhafah atau ya’ mutakallim yang jatuh sebelum hamzah qatha dan sebagian hamzah washal, maka ad-Duri memebaca sebagian besar bacaannya dengan memberi harakat fathah huruf ya’nya, seperti: عَهْدِيَ، الظَّالِمِيْنَ
10.     Kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan Hafsh
Adapun di antara sebagian kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan riwayat Hafsh ialah:
a.    Membaca huruf ha’ dari lafal هُوَ dan هِيَ jika jatuh setelah ثُمَّ، وَ، فَ dan لَ maka dibaca sukun ha’nya seperti: وَهْوَ، وَهْيَ
b.    Membaca sukunnya huruf sin dalam lafadz رُسُل bila sesudahnya ada dhamir هُمْ، كُمْ، نا dan huruf ba’nya lafadz سُبُلنا
c.    Membaca dengan dua versi, yakni sukunnya ra’ dan ikhtilas (membaca dengan cepat/ membaca dengan suara sepertiga harakat) dalam lafadz يأمركم – تأمرهم – يأمرهم dan hamzahnya lafadz بارئكم
d.   Membaca sukunnya huruf nun tanpa tasydid dalam za’nya lafadz يُنْزِلَ yang menurut riwayat Hafsh za’nya memakai tasydid, seperti lafadz يُنَزِّلَ kecuali dalam surat al-An’am; 37
e.    Membaca sukunnya lafadz مَيْتٌ yang menurut riwayat Hafsh ya’nya memakai tasydid, seperti lafadz مَيِّتٌ
f.     Membaca dengan harakat tanwin jika washal dalam lafadz ثَمودًا yang menurut riwayat Hafsh tanpa tanwin.
g.    Membaca dalam menyambung sukun dengan sukun (وَصْلُ السَّاكِنَيْن) seperti فَمَنِ اضْطُرَّ yang semula kasrah, maka menjadi dhummah فَمَنُ اضْطُرَّ
  
Riwayat as-Susi
1.    Memisah di antara dua surat
Susi memisah di antara dua surat dengan basmalah. Selain dengan basmalah as-Susi juga memisah dengan saktah dan mewashal-kan kedua surat dengan tanpa basmalah.
2.    Mim jama’
Apabila ada ha’ kasrah dan mim dari setiap mim jama’ yang sesudahnya berupa sukun yang sebelumnya berupa kasrah atau ya’ sukun, maka as-Susi  membaca dengan kasrah, seperti عَلَيْهِمِ الذِّلَّة
3.    Panjang dan pendek bacaannya.
a.    Apabila mad muttashil maka dibaca 2 alif seperti جَآءَ
b.    Apabila mad munfashil maka dibaca 1 dan 2 alif, seperti بِمَا أُنْزِلَ
4.    Dua hamzah berurutan dalam satu kalimat
 أَ – أَ seperti:  ءَأَنْذَرْتَهُمْ
  أَ – إِseperti:    أَئِذَا
Maka pada kedua bacaan ini bacaannya ialah tashil hamzah kedua dengan ada alif yang masuk (sama dengan riwayat Qalun)
 أَ – أُ  seperti:  أَؤُنْزِلَ
Adapun pada model ini bacaannya ialah dua versi, yakni:
a.    Tashil hamzah kedua dengan ada alif yang masuk
b.    Tashil hamzah kedua dengan tanpa ada alif yang masuk
5.    Dua hamzah berurutan dalam dua kalimat yang harakatnya sama, maka ada 3 model
أَ – أَ seperti: جَاءَ أَمْرُنَا
إِ – إِ seperti: هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ
أُ – أُ seperti:  أَوْلِيَاءُ أُلئِكَ
Maka ketiga model tersebut, masing-masing gugur hamzah pertamanya.
6.    Dua hamzah berurutan dalam dua kalimat yang hakikatnya berbeda, maka ada lima model:
أَ – إِ seperti: تَفِيْئَ إِلَى
أَ – أُ seperti: جَاءَ أُمَّةً
Pada kedua model diatas ini berlaku tashil huruf hamzah kedua.
إِ – أَ seperti: مِنْ خِطْبَةٍ النِّسَاءِ أَوْ
Pada model ini berlaku ibdal ya’ (mengganti menjadi ya’) pada huruf hamzah kedua.
أُ – أَ seperti: السُّفَهَاءُ أَلاَ
Pada model ini berlaku ibdal waw (mengganti menjadi huruf waw) pada huruf hamzah kedua.
أُ – إِ seperti: يَشَاءُ إِلَى
Adapun pada model ini berlaku tashil dan ibdal waw pada huruf hamzah kedua.
7.    Hamzah mufrad
Hamzah mufrad ialah hamzah yang tidak bebarengan dengan hamzah lain dalam kalimat itu. Apabila terdapat hamzah berharakat sukun yang terletak yang jatuh setelah huruf hidup yang sesuai dengan harakatnya, maka hamzah dibaca ibdal (diganti dengan huruf mad yang sesuai dengan harakat sebelumnya), seperti: يُؤمِنُونَيُومِنُون
8.    Idzhar dan idgham
a.    Apabila ada huruf ذْ bertemu dengan huruf ت, maka as-Susi membaca idgham, seperti: اتَّخَذْتُمْ
b.    Apabila terdapat huruf dal lafadz قد bertemu pada huruf ج، ذ،ز،س،ش،ص،ض،ظ maka as-Susi membaca idgham seperti: قَدْجَّاءَكًمْ
c.    Apabila terdapat huruf dzalnya إِذْ bertemu pada huruf ت،ج،د،ز،س،ص maka as-Susi membaca idgham, seperti: إِذْتَمْشِيْ
d.   Apabila ada ta’ ta’nits bertemu dengan huruf ز،س،ص،ظ،ث،ج maka as-Susi membaca idgham, seperti: وَجَبَتْ جُنُوبُهَا
e.    Apabila terdapat huruf lamnya lafadz هَلْ pada huruf ت maka as-Susi membaca idgham, seperti: هَلْ تَرَى
f.     Apabila terdapat ra’ sukun dengan lam maka as-Susi membaca dengan versi, yakni idzhar dan idgham, seperti: نَغْفِرْلَكُمْ
g.    Selain itu dalam masalah idgham, as-Susi mempunyai bacaan khas yang namanya idgham kabir, yakni apabila terdapat dua huruf yang sama dan berdekatan makhraj dan sifatnya (mutamatsilain dan mutaqaribain) yang pertama hidup dan didahului sukun sebelumnya baik satu kata maupun dua kata.
Apabila sebelumnya berupa sukun maka cara membacanya boleh antara 1/ 2/ 3 alif, seperti: الرحمن الرحيم مَّلِك يوم الدين
Adapun jika tidak berupa sukun, maka cara membacanya langsung masuk pada huruf kedua, seperti: مناسِككُّم
9.    Fathah dan imalah
a.    Apabila terdapat lafadz yang dzawatil ya’ (alif berbentuk ya’ atau alif yang aslinya ialah ya’) yang berwazan فَعلى – فِعلى – فُعلى maka as-Susi membaca taqlil, seperti: مُوسَى
b.    Apabila ada alif yang terletak sebelum ra’ yang berharakat kasrah di ujung kalimat, maka as-Susi membaca imalah, seperti: أَبْصَارِهِم
c.    Apabila ada huruf alif yang berbentuk ya’ yang jatuh setelah huruf ra’ di akhir kalimat (dzawatir ra’), maka as-Susi membaca imalah seperti: نَصَارَى
d.   Apabila terdapat lafal الكَافِرِيْنَ – كَافِرَيْنَ maka as-Susi membaca imalah
e.    Dalam setiap huruf ha’ dan ra’ dalam awal surat yang terdiri dari huruf hujaiyah (fawatih as-suwar) maka as-Susi membaca imalah seperti: طه، الر
f.     Pada akhir ayat dalam 11 surat tertentu, as-Susi membaca seluruh alif yang aslinya ya’, atau alif yang berbentuk ya’ (dzawatil ya’) dengan taqlil semua tanpa dibaca fathah. Surat tersebut ialah Thaha, an-Najm, al-Ma’arij, al-Qiyamah, an-Nazi’at, ‘Abasa, al-A’la, asy-Syams, al-Lail, ad-Dhuha, dan al-‘Alaq. Adapun khusus dalam lafadz رأى dan dzawatir ra’ maka tetap dibaca imalah.
10.     Ya’ idhafah atau ya’ mutakallim
Dalam membaca ya’ idhafah atau ya’ mutakallim yang jatuh sebelum hamzah qatha dan sebagian hamzah washal, maka as-Susi memebaca sebagian besar bacaannya dengan memberi harakat fathah huruf ya’nya, seperti: عَهْدِيَ، الظَّالِمِيْنَ
11.     Kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan Hafsh
Adapun di antara sebagian kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan riwayat Hafsh ialah:
a.    Membaca huruf ha’ dari lafal هُوَ dan هِيَ jika jatuh setelah ثُمَّ، وَ، فَ dan لَ maka dibaca sukun ha’nya seperti: وَهْوَ، وَهْيَ
b.    Membaca sukunnya huruf sin dalam lafadz رُسُل bila sesudahnya ada dhamir هُمْ، كُمْ، نا dan huruf ba’nya lafadz سُبُلنا
c.    Membaca dengan dua versi, yakni sukunnya ra’ dan ikhtilas (membaca dengan cepat/ membaca dengan suara sepertiga harakat) dalam lafadz يأمركم – تأمرهم – يأمرهم dan hamzahnya lafadz بارئكم
d.   Membaca sukunnya huruf nun tanpa tasydid dalam za’nya lafadz يُنْزِلَ yang menurut riwayat Hafsh za’nya memakai tasydid, seperti lafadz يُنَزِّلَ kecuali dalam surat al-An’am; 37
e.    Membaca sukunnya lafadz مَيْتٌ yang menurut riwayat Hafsh ya’nya memakai tasydid, seperti lafadz مَيِّتٌ
f.     Membaca dengan harakat tanwin jika washal dalam lafadz ثَمودًا yang menurut riwayat Hafsh tanpa tanwin.
g.    Membaca dalam menyambung sukun dengan sukun (وَصْلُ السَّاكِنَيْن) seperti فَمَنِ اضْطُرَّ yang semula kasrah, maka menjadi dhummah فَمَنُ اضْطُرَّ.[5]




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Imam Abu ‘Amru al-Basri mempunyai dua murid yang dijadikan sebagai rawinya yaitu ad-Duri dan as-Susi. Cara membaca al-Qurannya dua riwayat Abu ‘Amru hampir sama hanya saja riwayat as-Susi memiliki ciri khas di dalam pembacaan idgham yang dinamakan idgham kabir, yakni apabila terdapat dua huruf yang sama dan berdekatan makhraj dan sifatnya (mutamatsilain dan mutaqaribain) yang pertama hidup dan didahului sukun sebelumnya baik satu kata maupun dua kata, seperti: الرحمن الرحيم مَّلِك يوم الدين. Selebihnya cara membacanya sama.



DAFTAR PUSTAKA
Albab, Chasan. Pengantar Qira’at Tujuh: Pengertian, Sejarah dan Cara Membacanya. 2016. Tanggerang: FKMTHI.


[1] Chasan Albab, Pengantar Qira’at Tujuh: Pengertian, Sejarah dan Cara Membacanya, 2016, Tanggerang: FKMTHI, hlm: 2-3
[2] Ibid, hlm: 28
[3] Ibid, hlm: 31
[4] Ibid, hlm: 34-35
[5] Ibid, hlm: 85-98

TAFSIR LUGHAWY

TAFSIR LUGHAWY Oleh: KM. Abdul Gaffar, S.Th.I BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Al-Qur’an al-karim merupakan hidangan ila...